Key Strategy: Begini Kronologi Minyakita Bisa Langka di Pasar Senen
Dailynesia.com – Dalam Key Strategy program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pasar Senen, Jakarta Pusat, menjadi salah satu tempat yang mengalami kendala dalam distribusi Minyakita. Beberapa pedagang mengeluhkan bahwa stok produk ini sering kali menghilang, bahkan sempat habis total dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini berdampak signifikan pada aktivitas jual beli di pasar yang dikenal sebagai pusat perdagangan minyak goreng di ibukota.
Kelangkaan Minyakita di Pasar Senen
Desi, salah satu pedagang di Pasar Senen, menjelaskan bahwa Minyakita memang jarang ditemukan di rak-rak pengecer. “Key Strategy ini berdampak signifikan, ya sejak program MBG dicanangkan, stok Minyakita selalu habis, karena itu saya enggak mau jual dulu,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (11/5/2026).
“Key Strategy ini membuat distribusi Minyakita menjadi sulit, ya sepertinya di sini selalu enggak dapat, karena itu saya enggak mau jual dulu Minyakita,” tambah Desi.
Menurut Desi, kelangkaan Minyakita terasa lebih parah saat pasar beroperasi normal, meski jumlahnya tiba-tiba meningkat ketika ada inspeksi atau sidak dari pihak berwenang. “Kalau kondisi normal, pasokan justru engga ada, tapi pas mau ada sidak, baru tiba-tiba jadi banyak,” katanya. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem distribusi yang diatur dalam Key Strategy.
“Waktu sempat jual, itu mencapai Rp20.000 untuk yang 1 liter, tapi sih bukan awal tahun ini ya, sudah lama sih,” ujarnya.
Mengapa Minyakita Banyak Diklaim Langka?
Berbeda dengan Desi, Minah, pedagang lain, mengungkapkan bahwa kelangkaan Minyakita bukan hanya karena pasokan yang terbatas, tetapi juga karena minimnya minat pelanggan. “Key Strategy ini memang membuat Minyakita langka di sini, saya aja selalu enggak kebagian, tapi memang saya sudah enggak jual sih, bukan karena langka, tapi pelanggan langganan saya enggak beli,” ceritanya.
“Key Strategy ini berdampak pada konsumen, ya sepertinya kebutuhan akan Minyakita menurun, karena masyarakat lebih memilih produk lain,” kata Minah.
Menurut Minah, sebagian pedagang masih menerima pasokan Minyakita, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. “Ada beberapa toko yang dulu selalu dapat jatah, kalau saya sih selalunya enggak kebagian, cuma memang katanya pedagang lain yang selalu dapat, kali ini juga enggak dapat,” ujarnya. Kondisi ini mengisyaratkan adanya perubahan pola dalam Key Strategy yang diterapkan pemerintah.
Regulasi dan Strategi Pemerintah
Key Strategy ini juga disertai dengan aturan yang ketat dari Kementerian Perdagangan. Permendag Nomor 43 Tahun 2025 memastikan bahwa Minyak Goreng Rakyat (MGR) harus dipenuhi minimal 35% melalui Bulog dan BUMN Pangan. “Key Strategy ini mengatur tata kelola distribusi, termasuk syarat administratif untuk produsen dan pengemas,” jelas salah satu sumber dari kementerian tersebut.
Permendag 43 Tahun 2025 menetapkan persyaratan seperti KBLI 10437 (Industri Minyak Goreng Kelapa Sawit) dan izin usaha yang aktif. Sementara pengemas harus memiliki KBLI 82920 (Jasa Pengemasan) atau 46315 (Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati), atau KBLI 10437. “Key Strategy ini memastikan bahwa produk yang dijual sesuai standar, termasuk harga jual yang dibatasi HET Rp15.700 per liter,” kata sumber tersebut.
Para pedagang di Pasar Senen mengakui bahwa Key Strategy ini mengubah cara kerja mereka. “Mungkin strategi ini perlu disesuaikan dengan kondisi pasar, karena banyak pedagang yang kesulitan mendapatkan jatah,” ujar salah satu pedagang yang tidak ingin disebutkan nama lengkapnya. Dengan adanya regulasi ini, pemerintah mencoba memastikan ketersediaan Minyakita di seluruh Indonesia, terutama di pasar yang menjadi sentral kebutuhan masyarakat.

