Wakil Ketua MPR Ungkap Kesiapan Indonesia Jadi Pusat CCS Asia Pasifik

1 month ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
1a68884f-c239-4885-8950-6b8748e73244-0

Indonesia Siap Jadi Pusat Penyimpanan Karbon di Asia Pasifik

Dailynesia.com – Program terbaru menyoroti kesiapan Indonesia untuk menjadi pusat penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) utama di kawasan Asia Pasifik. Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, mengungkapkan bahwa negara ini memiliki potensi besar menjadi pusat teknologi ini dalam rangkaian acara London Climate Week 2026, yang diadakan di Imperial College London, Inggris. Pernyataan Eddy menekankan pentingnya peran Indonesia dalam mendukung transisi dekarbonisasi kawasan dan mempercepat pengurangan emisi global.

Keunggulan Indonesia dalam Pengembangan Teknologi CCS

Menurut Eddy, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dalam pengembangan teknologi CCS, terutama berkat pengalaman lebih dari lima dekade di sektor minyak dan gas. Negara ini juga dilengkapi dengan data geologi yang melimpah dan infrastruktur pendukung yang sudah ada, sehingga memungkinkan pemanfaatan teknologi ini secara efisien. Penguasaan teknologi CCS dapat memberi dampak signifikan terhadap peningkatan daya saing industri dan ketahanan energi nasional.

Program terbaru juga menyebutkan bahwa Indonesia telah mengidentifikasi minimal 19 proyek CCS dan CCUS yang berada di berbagai tahapan pengembangan. Dengan menggabungkan inovasi teknologi dan kebijakan yang tepat, negara ini berharap bisa menjadi pusat penyimpanan karbon yang diakui secara internasional. Selain itu, Eddy menekankan perlunya harmonisasi regulasi dan standar pemantauan untuk menarik investasi besar dalam sektor ini.

Peran Kemitraan Regional dalam Transisi Energi

Kesiapan Indonesia menjadi pusat CCS di Asia Pasifik tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi domestik, tetapi juga pada kemitraan dengan negara-negara tetangga. Eddy menyatakan bahwa kolaborasi lintas batas akan mempercepat penyelesaian tantangan dekarbonisasi, terutama di sektor-sektor yang sulit dikurangi emisinya, seperti industri gas alam, petrokimia, dan pembangkit listrik. Program terbaru ini juga menyoroti pentingnya koordinasi antarnegara dalam menyusun strategi penangkapan dan penyimpanan karbon.

Pengembangan proyek CCS di Indonesia bisa menjadi bagian dari upaya bersama Asia Pasifik untuk mencapai target penurunan emisi global. Dengan keunggulan sumber daya alam dan kemampuan teknis, negara ini memiliki potensi untuk menjadi mitra strategis dalam proyek pengurangan emisi di tingkat regional. Eddy menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah kunci keberhasilan dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat CCS terkemuka.

Keseimbangan Antara Ekonomi dan Lingkungan

Program terbaru juga menekankan bahwa transisi ke energi bersih tidak harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Eddy menyatakan bahwa CCS bisa menjadi alat yang memungkinkan Indonesia menciptakan pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. “Indonesia tidak menganggap pengurangan emisi dan pembangunan sebagai dua agenda yang bertentangan, tetapi sebagai dua hal yang saling mendukung,” kata Eddy.

Menurutnya, pengembangan teknologi CCS akan memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Dengan memanfaatkan potensi penyimpanan karbon, Indonesia bisa menarik investasi hingga US$ 43 miliar. Proyek ini juga diharapkan menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing industri dalam menghadapi perubahan iklim. Kesiapan menjadi pusat CCS menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk memenuhi target pembangunan berkelanjutan.

Langkah-Langkah Konkret dalam Pengembangan CCS

Indonesia telah mengambil langkah konkret dalam mempercepat implementasi teknologi CCS. Selain mengembangkan proyek-proyek terpadu, negara ini juga fokus pada peningkatan kapasitas kemitraan internasional. Program terbaru ini menyoroti perlunya kepastian investasi bagi pelaku usaha, serta koordinasi dengan negara-negara Asia Pasifik dalam standarisasi teknik dan regulasi.

Dalam upaya memperkuat kesiapan menjadi pusat CCS, Eddy Soeparno menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan lembaga internasional. Dengan adanya kerja sama yang solid, Indonesia berpotensi menjadi pelaku utama dalam transisi dekarbonisasi kawasan. Program terbaru ini menawarkan visi jangka panjang tentang peran Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global.

MORE FROM THIS CATEGORY