Terungkap Taktik Rahasia Israel dalam Kebijakan Baru untuk Melemahkan Iran dari Dalam
Dailynesia.com – Kebijakan baru yang diimplementasikan oleh pemerintah Israel pada masa pemerintahan Naftali Bennett mengungkap strategi pemerintahan negara itu untuk mengguncang kestabilan Iran dari dalam. Bennett, mantan Perdana Menteri yang menjabat antara 2021 hingga 2022, mengungkapkan dalam Konferensi Kebijakan Internasional JNS di Jerusalem bahwa kebijakan ini mencakup pengiriman ribuan perangkat Starlink ke Iran guna memperkuat protes anti-pemerintah. Kebijakan baru ini berfokus pada penggunaan teknologi digital sebagai alat diplomatik dan militer untuk memengaruhi kebijakan luar negeri Iran. Dengan menyebarluaskan akses ke internet dan media sosial, Israel mencoba memanfaatkan kelemahan infrastruktur komunikasi Iran untuk memicu gerakan politik yang dapat menggulingkan pemerintah di sana.
Penggunaan Starlink sebagai Strategi Kebijakan Baru
Perangkat Starlink, yang dikelola oleh SpaceX, menjadi bagian penting dari kebijakan baru ini. Layanan satelit ini dianggap mampu menyediakan koneksi internet di wilayah terpencil Iran, di mana akses ke media sosial dan informasi global sangat terbatas. Bennett menjelaskan bahwa Starlink memungkinkan pendemo Iran berkoordinasi secara lebih efektif, mempercepat momentum perubahan politik. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa kebijakan ini bukan sekadar tindakan militer, melainkan kombinasi antara teknologi dan operasi intelijen yang dirancang untuk menciptakan tekanan dari dalam terhadap pemerintahan Iran. Meski demikian, kebijakan baru ini tidak sempurna, karena Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal melanjutkan upaya tersebut, sehingga dampaknya tidak optimal.
“Kebijakan baru ini adalah langkah strategis yang memadukan teknologi dan politik, dengan tujuan memperkuat protes anti-pemerintah di Iran,” ujar Bennett, seperti dilaporkan Reuters pada 24 Juni 2026. “Dengan Starlink, kita memberikan sarana komunikasi yang bisa mempercepat kemungkinan perubahan sistem pemerintahan.”
Iran awalnya mengkritik kebijakan baru Israel ini, dengan menuduh pemerintah negara itu menggunakan Starlink sebagai alat untuk mengurangi keamanan Iran. Meski Starlink belum mendapat izin resmi beroperasi di negara tersebut, Musk pernah menyatakan bahwa layanan ini aktif di wilayah Iran. Bennett menegaskan bahwa kebijakan baru ini bertujuan memperkuat koordinasi antar pendemo, meningkatkan kesadaran kritis mereka terhadap kebijakan pemerintah Iran. Dalam konteks politik yang terus berkembang, tindakan ini bisa dianggap sebagai bagian dari upaya jangka panjang Israel untuk mengontrol arah kebijakan Timur Tengah.
Kritik terhadap Pemerintahan Netanyahu dan Dampak Kebijakan Baru
Bennett, yang pernah memimpin partai sayap kanan, juga mengkritik ketidakmampuan pemerintahan Netanyahu dalam melanjutkan kebijakan luar negeri yang dianggap lebih maju. “Sayangnya, kebijakan baru yang telah kita buat tidak dilanjutkan oleh pemerintahan saat ini, sehingga dampaknya tidak tercapai,” kata mantan Perdana Menteri tersebut. Dalam masa kerusuhan di Iran, akses internet sering kali diputus untuk mengendalikan aliran informasi. Namun, kebijakan baru Israel ini diharapkan bisa mengatasi hal itu dengan menyediakan jalur komunikasi alternatif. Bennett menilai bahwa kebijakan tersebut memiliki potensi besar jika diteruskan, karena bisa memperkuat perlawanan terhadap rezim Iran yang dianggap kaku dan tidak responsif terhadap kebutuhan rakyatnya.
Kebijakan baru Israel ini juga memperlihatkan koordinasi antara pemerintah dan industri teknologi global. SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, menjadi mitra kritis dalam upaya ini, karena kemampuannya menyediakan layanan satelit dengan kecepatan tinggi dan jangkauan luas. Bennett menekankan bahwa Starlink bukan hanya bantuan teknis, melainkan bagian dari strategi politik yang dirancang secara cermat. “Starlink adalah simbol dari kebijakan baru yang ingin menyebarluaskan kebebasan berbicara di Iran,” ujarnya. Selain itu, kebijakan ini juga berdampak pada hubungan diplomatik antara Israel dan negara-negara lain, terutama yang memiliki hubungan kuat dengan Iran.
Kebijakan baru Israel ini menimbulkan perdebatan antara pendukung dan kritikus. Sebagian menganggapnya sebagai langkah cerdas untuk memanfaatkan kelemahan Iran dalam urusan teknologi, sementara yang lain khawatir bahwa ini bisa memicu reaksi keras dari pemerintah Iran. Dengan menyebarluaskan perangkat Starlink, Israel tidak hanya mengirimkan alat komunikasi, tetapi juga memperkuat peran teknologi sebagai senjata politik. Kebijakan baru ini menunjukkan bagaimana negara-negara besar bisa menggunakan alat modern untuk memengaruhi kebijakan negara lain, terutama dalam konteks krisis regional yang semakin rumit.

