Indonesia Berhasil Hentikan Impor BBM ke Tahun 2028
Dailynesia.com – Menjadi fokus utama pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan kemandirian energi nasional. Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan bahwa negara ini menargetkan untuk menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) seperti solar, avtur, dan bensin Ron 92, 95, 98 hingga 2028. Program ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam pengelolaan sumber daya energi, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mengoptimalkan produksi kilang domestik. DEN juga menekankan pentingnya penggunaan energi nabati sebagai bagian dari strategi ini.
Penyusunan Rencana dan Kesiapan Teknis
Dalam wawancara di Kampus IPB Bogor, anggota DEN Satya Widya Yudha mengatakan bahwa pencapaian kemandirian energi memerlukan persiapan matang di berbagai aspek. “Kita ingin menuju kedaulatan energi, dengan menghentikan impor solar pada 2026, avtur pada akhir 2026, dan bensin Ron 92, 95, 98 pada 2028,” ujarnya. Ia menekankan bahwa strategi ini tidak hanya bergantung pada kenaikan kapasitas kilang, tetapi juga pada keterlibatan industri dan kebijakan yang konsisten.
“Kita impor menghentikan impor daripada avtur akhir 2026. Bensin Ron 92, 95, 98 akan kita hentikan pada 2028,” ujarnya.
Menurut Yudha, program biofuel menjadi salah satu kunci untuk mendukung target ini. Biodiesel digunakan sebagai campuran untuk solar, sementara bioetanol berperan dalam mengurangi penggunaan bensin fosil. “Program biofuel dapat menjadi solusi utama dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” tambahnya. Ia juga menyebutkan bahwa kebijakan mandatori biodiesel B40 hingga B50 akan memperkuat ketersediaan energi nabati di pasar domestik.
Peran RDMP Balikpapan dan Dampak Ekonomi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa penghentian impor avtur akan segera tercapai pada 2027, berkat pengoperasian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. “Termasuk avtur, nanti kita tidak lagi mengimpor,” kata Bahlil dalam acara peresmian RDMP Balikpapan, dikutip Selasa (13/1/2026). Ia menambahkan bahwa program ini juga menargetkan pengurangan pengeluaran devisa hingga Rp 60 triliun per tahun.
“Kedepan kita akan hanya mengimpor crude saja. Kalau ini tercapai, gerakan impor tambahan akan semakin tipis,” ujarnya.
Kilang RDMP Balikpapan diperkirakan bisa memproduksi BBM bensin sebanyak 5,8 juta kiloliter per tahun, sementara konsumsi nasional mencapai 38 juta kiloliter. Dengan peningkatan produksi 14,25 juta kiloliter, impor bensin diperkirakan hanya tersisa 19 juta kiloliter. “RDMP Balikpapan akan menjadi pilar penting dalam mencapai Latest Program,” jelas Bahlil. Proyek ini juga akan memberikan dampak signifikan terhadap sektor energi nasional, terutama dalam menekan defisit energi yang selama ini dikelola melalui impor.
Perkembangan Produksi dan Konsumsi BBM
Menurut data dari DEN, penghentian impor solar CN48 dan CN51 akan lebih cepat tercapai karena kombinasi antara kebijakan biodiesel mandatori dan peningkatan kapasitas kilang. “Impor solar CN48 tinggal 5 juta kiloliter, bahkan surplus 1,4 juta kiloliter. Untuk CN51, impor hanya 600 ribu kiloliter,” terang Yudha. Ia menjelaskan bahwa strategi ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
“Semester kedua, Pertamina diminta membangun kilang agar tidak lagi mengimpor,” tambahnya.
Produksi BBM dalam negeri terus meningkat seiring adanya investasi besar dari pemerintah dan swasta. Dengan RDMP Balikpapan, kapasitas produksi BBM akan meningkat signifikan, memungkinkan Indonesia untuk mengurangi kebutuhan bahan baku mentah dari luar negeri. Ini juga membuka peluang untuk mengembangkan industri energi nabati yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Tantangan dan Strategi Pemenuhan Target
Menyusun Latest Program ini tidak tanpa tantangan. Yudha mengakui bahwa kenaikan produksi BBM memerlukan waktu, teknologi, dan investasi yang besar. “Kita harus memastikan kilang dalam negeri mampu menyerap seluruh produksi yang ada,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya mengoptimalkan sumber daya energi nabati, seperti minyak sawit dan biomassa, untuk melengkapi cadangan bahan bakar minyak.
“Program ini bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil,” tambahnya.
Di samping itu, adopsi teknologi modern di kilang-kilang domestik akan menjadi faktor penentu. Pemerintah terus berupaya meningkatkan efisiensi produksi serta mengurangi biaya operasional. “Kita perlu terus berinvestasi dalam R&D untuk mengembangkan kilang yang lebih canggih,” jelas Yudha. Ia menilai bahwa keberhasilan Latest Program tergantung pada komitmen seluruh pihak untuk membangun ekosistem energi yang mandiri dan berkelanjutan.
Peluang dan Dampak Lingkungan
Dengan terwujudnya Latest Program, Indonesia diharapkan bisa mengurangi emisi karbon yang berasal dari impor BBM. Bahan bakar minyak fosil terbukti menjadi penyumbang besar polusi udara dan perubahan iklim. Penggunaan energi nabati akan membantu mengurangi dampak negatif ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pasar energi global.
“Dengan peningkatan produksi dalam negeri, kita bisa mengurangi ketergantungan pada impor,” kata Yudha.
Kebijakan ini juga menawarkan peluang besar bagi sektor pertanian dan perkebunan, khususnya penghasil bahan baku biofuel. Dengan permintaan yang meningkat, petani dan pengusaha akan mendapat insentif ekonomi, memperkuat ekonomi lokal, dan menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan akan menekan biaya energi jangka panjang serta memperbaiki kualitas udara di berbagai daerah.
Terlepas dari keberhasilannya, Latest Program ini juga menuntut adanya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Den mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung inisiatif ini, termasuk dalam penggunaan BBM secara bijak dan pembangunan infrastruktur yang mendukung produksi energi dalam negeri. Dengan langkah-langkah yang terencana, Indonesia semakin dekat menuju status energi mandiri yang diharapkan selama ini.

