Bakal Muncul Kereta EV di Jalur Bandung-Cicalengka, Ini Bocorannya

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
trem-otonom-bertenaga-baterai-hasil-kolaborasi-pt-inka-persero-dan-institut-teknologi-bandung_169

Meeting Results: BEMU Kereta EV Bakal Layani Jalur Bandung-Cicalengka

Dailynesia.com – Dalam sebuah meeting results yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan Indonesia, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkap rencana penggunaan teknologi kereta api berbasis baterai, Battery Electric Multiple Unit (BEMU), di jalur Padalarang-Cicalengka. Proyek ini diharapkan menjadi bagian dari upaya transformasi transportasi umum nasional, yang menawarkan solusi inovatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Meeting results tersebut menyoroti langkah strategis KAI untuk mengadopsi teknologi listrik di tengah tantangan infrastruktur yang terbatas.

Analisis Teknis dan Visi Jangka Panjang

Meeting results yang digelar Rabu lalu menghasilkan kesepakatan bahwa BEMU akan menjadi alternatif penting dalam mengembangkan jaringan rel di Indonesia. Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menjelaskan bahwa teknologi baterai telah mencapai tingkat kematangan yang cukup untuk digunakan dalam skala komersial. “Pada meeting results, kami menetapkan bahwa BEMU bisa menjadi jalan keluar untuk jalur yang belum elektrifikasi, karena kapasitas baterainya besar dan semakin ringan,” katanya.

Dalam meeting results tersebut, juga dibahas bahwa tingkat elektrifikasi di Indonesia masih rendah, hanya sekitar 10% dari total jaringan rel 6.000 kilometer. “Dari 6.000 lebih kilometer, cuma 600 kilometer yang elektrifikasi, dan mebiayai elektrifikasi itu mahal,” ujar Gede dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI. Faktor ini mendorong KAI untuk memprioritaskan BEMU sebagai solusi yang lebih ekonomis dan fleksibel.

Konsep BEMU: Mengapa Dipilih?

BEMU, atau Battery Electric Multiple Unit, merupakan teknologi kereta api yang beroperasi dengan baterai dan tidak memerlukan kabel listrik aliran atas (LAA). Dalam meeting results, KAI menjelaskan bahwa penggunaan BEMU memungkinkan kereta berjalan tanpa ketergantungan pada jaringan elektrifikasi yang masih dalam proses pembangunan. “Speknya adalah jalur 42 km, ngecas 15 menit sudah full cas, sehingga bisa langsung berjalan tanpa LAA,” tambah Gede. Teknologi ini juga menawarkan keuntungan dalam hal pengisian daya yang lebih cepat dibandingkan kereta api konvensional.

Proses Pengadaan dan Jadwal Peluncuran

Meeting results menyebutkan bahwa persiapan pengadaan kereta BEMU telah dimulai sejak September 2026. Proses ini melibatkan seleksi vendor, evaluasi spesifikasi, dan perencanaan logistik. “Kami merencanakan proses pengadaan mulai bulan ini, sehingga pengiriman satu unit kereta bisa terwujud pada Q2-2027,” jelas Gede. Rencananya, BEMU akan diuji coba di Bandung Raya sebagai lokasi yang membutuhkan layanan komuter intensif. “Jika berhasil, teknologi ini bisa menjadi contoh sukses sebelum diterapkan di kota lain,” lanjutnya.

KAI memperkirakan bahwa penggunaan BEMU akan mengurangi emisi karbon sebesar 70% dibandingkan kereta api diesel. “Meeting results juga menyoroti bahwa proyek ini sejalan dengan target nasional mengurangi polusi udara dan mencapai keberlanjutan lingkungan,” tambah Gede. Teknologi ini diharapkan bisa mengatasi kendala biaya tinggi dalam pembangunan infrastruktur elektrifikasi.

Peta Jalur dan Stasiun yang Dituju

Proyek BEMU akan melayani koridor Padalarang-Cicalengka dengan panjang sekitar 42 kilometer. Jalur ini melintasi kota-kota strategis seperti Padalarang, Cimahi, Bandung, hingga Cicalengka. Beberapa stasiun yang akan dilayani meliputi Cimindi, Andir, Kiaracondong, Gedebage, Rancaekek, dan Haurpugur. “Meeting results menegaskan bahwa rute ini dipilih karena tingginya permintaan penumpang dan potensi pengembangan infrastruktur,” jelas Gede.

Dalam meeting results, KAI juga menyebutkan bahwa BEMU akan menjadi bagian dari kebijakan transportasi nasional yang mengedepankan inovasi. “Ini bukan hanya tentang teknologi, tapi juga tentang memberikan akses transportasi yang lebih cepat dan efisien bagi masyarakat,” tambah Gede. Keberhasilan proyek ini diharapkan mendorong penerapan teknologi serupa di jalur lain, seperti Jakarta-Surabaya, yang juga menghadapi tantangan serupa.

MORE FROM THIS CATEGORY