Kelas Menengah RI Tertekan, Ekonomi Syariah Bisa Jadi Penyelamat?
Key Discussion – Ekonomi Indonesia terus menghadapi tantangan serius, terutama terkait kondisi kelas menengah yang terpuruk. Meski pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5 persen pada tahun 2024, situasi ekonomi syariah justru menjadi poin utama yang diharapkan bisa menjadi penyeimbang utama. Kelas menengah, sebagai lapisan masyarakat yang sebelumnya menjadi pilar utama konsumsi domestik, kini terjebak dalam tekanan yang menggerus daya beli dan kesejahteraan mereka.
Indonesia memiliki populasi kelas menengah yang terus berkembang, namun daya tahan ekonomi mereka menurun tajam akibat berbagai faktor. Kenaikan biaya hidup, inflasi yang mengguncang, dan ketidakstabilan pasar kerja menjadi ancaman serius. Khususnya, lapangan kerja berkualitas yang seharusnya mampu meningkatkan pendapatan tetap stagnan, sementara biaya seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan meningkat secara signifikan. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa kelas menengah semakin rentan terhadap tekanan ekonomi.
Peran Kelas Menengah dalam Ekonomi Nasional
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah menyumbang hampir 66,35 persen dari total populasi Indonesia pada 2024. Mereka menjadi penggerak utama kegiatan ekonomi, baik melalui belanja konsumsi maupun pembayaran pajak. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa kelas menengah juga mewakili sekitar 81,49 persen dari total konsumsi rumah tangga, yang berarti ekonomi nasional sangat bergantung pada kinerja mereka.
“Proporsi kelas menengah Indonesia turun dari sekitar 21,5 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024,”
catatan laporan Reuters. Hal ini menggambarkan bagaimana kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan pengeluaran kesehatan yang tinggi mendorong sebagian besar masyarakat dari kelas menengah ke kategori ekonomi yang lebih rentan. Jumlah kelas menengah berkurang dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta pada 2025, sementara kelompok “aspiring middle class” meningkat hingga 142 juta orang. Fenomena ini memperlihatkan bahwa daya beli kelas menengah terus berkurang, menimbulkan risiko terhadap perekonomian Indonesia.
Faktor Penyebab Penurunan Daya Ekonomi
Kondisi kelas menengah yang semakin rentan dipengaruhi oleh tiga aspek utama. Pertama, pertumbuhan lapangan kerja berkualitas yang diharapkan bisa meningkatkan pendapatan tetap melambat. Meski Indonesia menciptakan jutaan pekerjaan, sebagian besar berada di sektor informal yang berpenghasilan rendah. Hal ini menyebabkan banyak lulusan perguruan tinggi bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka, menciptakan “traps kelas menengah yang terdidik” yang mengurangi potensi peningkatan ekonomi.
Kedua, biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan. Inflasi yang mencapai tingkat dua digit dalam beberapa tahun terakhir mengakibatkan kenaikan harga properti, pendidikan, dan layanan kesehatan yang signifikan. Di sisi lain, gaji di sektor formal tidak mampu mengimbangi kenaikan harga, sehingga menyempit ruang fiskal masyarakat. Situasi ini semakin memburuk akibat ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi daya beli lokal.
Ketiga, pergeseran konsumsi masyarakat kelas menengah memperparah masalah ini. Fenomena “downtrading” kini semakin terasa, di mana mereka terpaksa mengurangi kualitas kebutuhan sehari-hari untuk menyesuaikan dengan pendapatan yang stagnan. Contohnya, kebiasaan belanja di tempat mewah berubah menjadi pilihan yang lebih ekonomis, yang memperlihatkan ketidakstabilan ekonomi yang terus-menerus.
Potensi Ekonomi Syariah sebagai Solusi
Ekonomi syariah dianggap sebagai solusi potensial untuk mengatasi tekanan pada kelas menengah. Model ekonomi ini mengutamakan prinsip keadilan, transparansi, dan keberlanjutan, yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang terbatas. Dalam Key Discussion, ekonomi syariah bisa menjadi sarana untuk membangun ekonomi yang lebih inklusif, terutama melalui produk dan layanan keuangan yang lebih sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Pengembangan ekonomi syariah tidak hanya terbatas pada sektor keuangan, tetapi juga mencakup industri seperti perhotelan, perhotelan, dan transportasi. Produk syariah seperti tabungan berjangka, asuransi, dan investasi berbasis syariah menawarkan alternatif yang lebih aman bagi masyarakat kelas menengah. Selain itu, model ini juga mendukung pengelolaan dana yang lebih terstruktur, sehingga bisa meningkatkan stabilitas keuangan keluarga.
Menurut Key Discussion, ekonomi syariah dapat menjadi pilar baru dalam perekonomian Indonesia. Dengan fokus pada prinsip-prinsip syariah, seperti keadilan dan keseimbangan, model ini diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan. Kebutuhan akan produk finansial yang lebih inklusif semakin besar, terutama bagi kelompok masyarakat yang terdampak inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

